"PENDIRI DAN PENGASUH PERTAMA PESANTREN ZAINUL HASAN GENGGONG"

KH. Zainul Abidin (1839 - 1868 M)


         Berdirinya sebuah pesantren biasanya didahului oleh adanya pengakuan suatu lingkungan masyarakat tertentu terhadap kelebihan di bidang ilmu agama islam dan kesalehan  seorang ulama', sehingga penduduk dalam lingkungan itu banyak yang datang untuk belajar menuntut ilmu dari ulama'. masyarakat memanggil sang ulama' dengan predikat kiai. Sedangkan para pelajar yg menuntut ilmu di tmpat itu di sebut santri.

              Motif berdirinya Pesantren Zainul Hasan Gengong berawal dari munculnya seorang kiai yg alim keturunan Magrabi (Maroko), ia adalah alumni Pesantren Daresmo Surabaya, yakni KH. Zainul Abidin. Beliau hadir di tengah-tengah masyarakat ketika mereka sangat membutuhkannya, ia melihat bahwa masyarakat sekitar butuh bimbingan dan pengajaran ilmu agama, ia merasa terpanggil hatinya setelah melihat kenyataan bahwa masyarakat di sekitar kediamannya banyak melakukan kemaksiatan seperti perjudian, perampokan, pembunuhan, perzinahan dan lain-lain. Disamping itu, beliau juga merasa perihatin dan kasihan karna dirinya selalu dibuntui oleh masyarakat untuk segera menangani segala kemungkaran yg terjadi di lingkungannya.

           Beliau sebenarnya sadar bahwa tuntutan masyarakat di atas merupakan tugas yg sangat berat, namun dengan niat suci karna Allah dan di dukung oleh modal ilmu agama yg tinggi serta atas landasan amar ma'ruf nahi mungkar (melakukan perbuatan yang baik dan mencegah hal yg dilarang/mugkar), beliau mempunyai keyakinan akan dapat mengubah masyarakt yang penuh kemaksiyatan mwnjadi masyarakat yang penuh ketentraman. Untuk merealisasikan niat baiknya itu, KH.Zainul Abidin menempuh beberapa cara yaitu:
  1. Hubungan dengan masyarakat diintensifkan dalam rangka pembinaan masyarakat terhadap kesadaran beragama melalui silaturahmi (kunjungan terhadap masyarakat), gotong royong dalam masalah sosial dan lain-lain.
  2. Melaksanakan pendidikan non-formal dengan modus dakwah keagamaan dari rumah kerumah (door to door) terhadap masyarakat sekitar yang di mulai dari penanaman dasar-dasar keimanan dan keislaman.
  3. Merintis berdirinya pondok pesantren melalui pemberia pelajaran Al-Quran dan ilmu-ilmu agama bagi santri pemula, serta memberikan pelajaran kitab kuning dan menyediakan tempat menginap bagi santri yang tempatnya jauh dari kediamannya (pondokan).
      Berangkat dari langkah-langkah itulah, maka pada tahun 1839 M / 1250 H, tempat yang didiami oleh KH.Zainul Abidin resmi menjadi pondok pesantren dengan nama Pondok Genggong. Hal ini dilakukan karna banyaknya masyarakat yang memberikan kepercayaan kepadanya dengan memondokkan anak-anakn mereka untuk belajar ilmu-ilmu agama Islam di Pondok Genggong. KH.Zainul Abidin menjadi pengasuh Pondok Genggong sejak tahun 1839-1865 M (26 tahun).



Share this

Related Posts

Latest
Previous
Next Post »